Electronic Arts atau EA beberapa waktu silam sempat dinobatkan menjadi korporasi paling buruk di kawasan Amerika Serikat. Predikat memalukan tersebut bahkan disandang oleh pihak EA selama kurun waktu dua tahun secara berturut-turut. Label ini tentu bukanlah sebuah pencapaian yang patut untuk dipamerkan apalagi dirayakan ke publik. Status korporasi paling jelek ini disematkan tentu bukan hadir tanpa alasan yang mendasar. EA dinilai menerapkan banyak kebijakan yang sama sekali tidak memikirkan kepentingan para pemain selaku pembeli produk mereka. Banderol harga setiap permainan dipatok terlampau tinggi tanpa disertai dengan layanan bantuan teknis yang sepadan. Sejumlah judul permainan terbitan mereka dianggap gagal menghadirkan standar kualitas gameplay yang diharapkan para penggemar. Deretan pemutusan hubungan kerja sepihak pada sejumlah studio kreatif ternama kesayangan gamer juga semakin memperkeruh citra negatif perusahaan raksasa ini.
Kenyataan tersebut terasa sangat mengecewakan, lantaran torehan predikat negatif berulang itu memperlihatkan bahwa manajemen penerbit game ternama ini enggan melakukan introspeksi diri dari rapor merah masa lalunya. Mengesampingkan rekam jejak tersebut, berikut ini disajikan ulasan sejumlah judul video game terburuk yang sempat dirilis oleh EA ke pasar industri hiburan global:
Mass Effect 3 sengaja dihadirkan guna melengkapi bagian akhir dari perjalanan trilogi Commander Shepard. Menilik tampilan visualnya, permainan ini sejatinya sanggup mengimbangi kemegahan grafis dua seri terdahulu. Struktur rancangan arsitektur lingkungan sekitar digarap secara menawan dan mendetail. Pola pergerakan para tokoh secara keseluruhan terlihat sangat halus serta luwes. Sayangnya, masih dijumpai sejumlah kekurangan berupa gestur animasi fisik yang kaku serta tidak optimal. Sejumlah area interior maupun lanskap luar ruangan kerap menampilkan sudut kosong melompong tanpa objek pendukung. Titik kegagalan paling menyakitkan dari seri ini terletak pada penutupan alur kisah yang memicu gelombang protes dari penggemar. Dinamika cerita sejatinya berjalan mengalir dari babak awal hingga pertengahan permainan. Sayangnya, memasuki adegan pamungkas, terjadi kemerosotan mutu narasi yang sangat drastis jika disandingkan dengan cerita epik Mass Effect pertama dan kedua.
Rilisnya permainan SimCity pada tahun 2013 layak dikategorikan sebagai salah satu malapetaka terbesar bagi EA. Hal tersebut dikarenakan permainan simulasi pembangunan ini mewajibkan akses koneksi internet secara terus-menerus tanpa diimbangi kesiapan peladen yang tangguh. Infrastruktur server jaringan milik EA ternyata tidak sanggup menampung lonjakan drastis para pemain yang mengakses secara bersamaan. Lebih dari kendala teknis tersebut, SimCity 2013 dicap sebagai rilisan paling mengecewakan akibat mutu permainan secara menyeluruh yang dianggap sangat buruk dan mengecewakan jutaan konsumen.
Protes lain yang kerap menghujani pihak EA berhubungan dengan keberadaan representasi karakter lesbian, gay, biseksual, maupun transgender dalam karya mereka, salah satu contohnya hadir pada permainan The Sims 4. Kendati tidak terdapat peraturan baku tertulis mengenai unsur seksual ini, manajemen EA secara tegas menyatakan penolakan untuk berkompromi apabila sematan titel perusahaan paling buruk dijatuhkan hanya karena figur inklusif tersebut.
Deretan judul di atas menggambarkan rangkuman beberapa permainan terburuk buatan EA. Menghadapi cap negatif tersebut, manajemen EA sempat mengutarakan komitmen mereka untuk berbenah dan menghindari lubang kecerobohan serupa pada masa mendatang. EA berjanji mencermati masukan para penggemar seraya menjauhi sederet keputusan kontroversial.
