
2 Desember 1993. Matahari Medellín belum tinggi ketika suara tembakan memecah udara di kawasan Los Olivos. Di atap sebuah rumah dua lantai, tubuh Pablo Escobar tergeletak. Begitulah akhir resmi sang raja kokain. Namun sejak hari itu, satu pertanyaan terus bergaung: apakah ia ditembak pasukan khusus, atau memilih mengakhiri hidupnya sendiri?
Kematian Escobar bukan sekadar akhir seorang buronan. Ia adalah bab penutup dari perburuan paling intens dalam sejarah modern Kolombia.
Jejak Telepon yang Mengkhianati
Selama berbulan-bulan, unit elit kepolisian Kolombia yang dikenal sebagai Search Bloc memburu Escobar tanpa lelah. Mereka dibantu intelijen Amerika Serikat, termasuk agen dari Drug Enforcement Administration.
Escobar dikenal sering menelepon keluarganya, terutama sang putra. Pada hari ulang tahunnya yang ke-44, ia melakukan panggilan yang berlangsung cukup lama. Sinyal itu dilacak. Tim pemburu mempersempit lokasi hingga ke rumah persembunyiannya di Los Olivos.
Dalam hitungan jam, rumah tersebut dikepung.
Versi Resmi: Tewas dalam Baku Tembak
Menurut laporan pemerintah Kolombia, Escobar tewas akibat tembakan dalam baku tembak dengan pasukan Search Bloc. Ia mencoba melarikan diri melalui atap bersama pengawalnya.
Foto yang kemudian tersebar menunjukkan tubuhnya terbaring di atas genteng merah, dikelilingi aparat bersenjata. Luka tembak terlihat jelas.
Versi ini menyatakan bahwa Escobar ditembak oleh anggota pasukan khusus saat berusaha kabur. Operasi itu menjadi simbol keberhasilan Kolombia dalam menjatuhkan tokoh utama Medellín Cartel.
Namun tidak semua orang menerima narasi tersebut begitu saja.
Teori Bunuh Diri
Keluarga Escobar, terutama putranya, menyuarakan versi berbeda. Mereka mengklaim bahwa Escobar memiliki prinsip: ia tidak akan pernah menyerahkan diri hidup-hidup kepada musuhnya.
Menurut teori ini, luka tembak di kepala Escobar berada di posisi yang konsisten dengan tembakan dari jarak sangat dekat, bahkan kemungkinan dari dirinya sendiri. Ia disebut lebih memilih bunuh diri daripada ditangkap atau dipermalukan.
Ada pula yang menyebut Escobar pernah berkata bahwa ia akan menembak dirinya sendiri “di telinga” jika situasi sudah tak tertolong. Luka fatal yang ditemukan berada di area yang memicu spekulasi tersebut.
Kabut di Atas Genteng
Perdebatan muncul karena kekacauan di lokasi kejadian. Baku tembak berlangsung singkat, intens, dan penuh adrenalin. Dalam situasi seperti itu, detail bisa kabur.
Apakah ia ditembak saat berlari?
Apakah ia menekan pelatuk sendiri di detik terakhir?
Atau kombinasi keduanya?
Beberapa saksi menyebut tembakan terdengar dari berbagai arah. Tidak ada rekaman video utuh yang bisa menjawab dengan pasti. Yang tersisa hanya foto, laporan balistik, dan narasi yang saling berhadapan.
Politik di Balik Narasi
Kematian Escobar memiliki nilai simbolis besar. Bagi pemerintah Kolombia, keberhasilan menembak mati raja kartel adalah kemenangan moral dan politik. Itu menunjukkan bahwa negara akhirnya lebih kuat daripada kriminal paling ditakuti.
Di sisi lain, bagi keluarga dan sebagian pendukungnya, bunuh diri adalah cara mempertahankan citra bahwa Escobar tidak pernah benar-benar ditaklukkan. Ia jatuh atas pilihannya sendiri, bukan karena ditembak musuh.
Narasi yang dipilih membawa makna yang berbeda.
Fakta yang Tetap Tak Terbantahkan
Yang pasti, 2 Desember 1993 menandai berakhirnya satu era. Setelah bertahun-tahun kekerasan, bom mobil, dan ketakutan, Medellín perlahan mulai bernapas lebih lega.
Tubuh Escobar dimakamkan di Medellín dan dihadiri ribuan orang. Bahkan dalam kematiannya, ia tetap menjadi figur yang memecah opini: bagi sebagian orang monster, bagi yang lain sosok kontroversial yang pernah membantu masyarakat miskin.
Misteri yang Terus Hidup
Apakah Pablo Escobar bunuh diri atau ditembak pasukan khusus? Jawaban definitif mungkin tidak pernah benar-benar ditemukan. Bukti teknis bisa dianalisis, tetapi interpretasi selalu membuka ruang debat.
Yang jelas, kematiannya di atas atap sederhana kontras dengan kerajaan miliaran dolar yang pernah ia bangun. Dari istana megah hingga pelarian di rumah biasa, akhir hidupnya terasa seperti ironi sejarah.
Dan hingga hari ini, pertanyaan itu tetap menggantung di udara Medellín, seperti gema tembakan yang belum sepenuhnya reda.
