Karya Impian Telah Tercapai, Yoko Taro Ungkap Tetap Bekerja demi Hindari Demensia

Sosok Yoko Taro tentu sudah sangat familier bagi kalangan pemain yang pernah menikmati waralaba NieR ataupun Drakengard. Kendati kedua judul legendaris tersebut menuai pencapaian masif, deretan proyek yang ia tangani selama beberapa tahun terakhir justru condong berada di ranah game yang tergolong kurang mendapat sorotan publik luas.

Dalam sesi perbincangan di panggung perhelatan The Tenth Mosaic (dilansir via Defaminicogamer) belum lama ini, Yoko Taro membagikan beragam kisah seputar metode kreatif yang diterapkannya kala merancang karya interaktif, sekaligus menguraikan angan-angan serta pandangannya mengenai hari esok secara personal.

Saat menerima pertanyaan tentang apa hal yang paling berhasrat ingin ia wujudkan sekarang, Yoko Taro menegaskan dirinya telah menuntaskan ambisi terbesarnya dalam melahirkan game idaman lewat Drakengard. Segala bentuk aspirasi kreatif yang ia dambakan sejatinya telah tertuang penuh ke dalam judul perdana rilisan 2003 silam tersebut.

Ketika menggarap Drakengard—yang menandai debutnya sebagai sutradara—dirinya memperoleh keleluasaan penuh mengeksekusi beragam konsep yang ia kehendaki. Walau pencapaiannya belum menyentuh angka mutlak seratus persen, ia berhasil meluncurkan mahakarya yang merefleksikan seluruh dedikasi terbaiknya pada era itu.

Bagi penikmat video game sejati, meluncurkan proyek impian secara bebas kepada khalayak ramai merupakan sebuah anugerah luar biasa. Berhubung angan-angan besar itu sudah berhasil diwujudkan, ia merasa hanya tinggal menghabiskan sisa perjalanan hidupnya dengan santai.

Selain itu, sang kreator nyentrik ini berkelakar jika simpanan materi dan dana hari tuanya kini sudah terhitung memadai andai ia memilih pensiun dini untuk menikmati sisa usianya tanpa beban.

Tetap aktif berkarya agar tidak terserang demensia

Kendati demikian, bertambahnya usia membuatnya kian sadar akan ancaman berbagai gangguan medis. Yoko Taro mengaku kondisi fisik yang paling mencemaskan dirinya di fase lanjut usia mencakup penyakit kanker serta penurunan kognitif berupa demensia.

Kenyataan bahwa usianya tidak lagi muda memaksanya merenungkan hari tua secara mendalam. Ancaman terbesar yang paling ia takuti adalah kanker serta demensia. Tampaknya, saat seseorang berhenti melakukan aktivitas kerja rutin, probabilitas mengidap demensia bakal melesat drastis. Karena alasan itu, saat ini ia memilih terus bekerja—semata-mata didorong ketakutan mendalam terhadap penyakit demensia.

Hingga kini tekanan maupun pengalaman pahit dalam dunia profesional masih kerap terjadi. Namun setiap kali rintangan semacam itu menghadang, ia menghadapinya dengan pola pikir positif bahwa seluruh beban kerja tersebut bermanfaat menghindarkan otaknya dari serangan demensia.

Berdasarkan referensi medis, demensia merujuk pada sindrom klinis yang memicu kemerosotan fungsi memori, penurunan daya nalar, dan gangguan kognitif lainnya yang mengganggu kehidupan harian penderita (via Alodokter).

Bagaimana pandanganmu mengenai penuturan jujur dari sang kreator ini? Tuliskan respons serta pendapatmu langsung pada kolom komentar yang tersedia.

Simak ulasan menarik lainnya dari Andy Julianto. Untuk pertanyaan lanjutan, Anda dapat menghubungi [email protected].

Scroll to Top